Kartografi (review)

KEUNIKAN PETA

   Untuk mendapatkan ikhtisar suatu daerah tidak mungkin tanpa menggunakan peta. Suatu peta menempatkan data geospasial, misalnya: data tentang fenomena atau objek berikut lokasinya di permukaan bumi, dan saling hubungan antara satu fenomena atau objek dengan lainnya secara benar. Suatu peta dapat dianggap sebagai suatu sistem informasi geospasial yang memberi jawaban atas banyak pertanyaan mengenai daerah yang digambarkan: jarak antara titik-titik, posisi titlk-titik yang menyangkut satu sama lain, ukuran suatu daerah, dan sifat pola persebarannya. Jawaban dapat diperoleh secara langsung dari peta setiap saat pada waktu kapanpun, tanpa membutuhkan keyboard atau membuka beberapa file.
       Secara teoritik, SIG mampu menarik kesimpulan untuk permasalahan-permasalahan tanpa peta, dengan hanya berdasarkan pada informasi geospatial di dalam format digital, yang telah dikumpulkan (meskipun dalam banyak kasus telah didigitasi dari suatu peta). Dalam praktek, kegiatan penarikan kesimpulan seperti itu diragukan, karena tanpa peta seseorang akan sulit merumuskan permasalahan geospatial secara relevan, selain dilakukan dengan melalui komputer. Dengan 'metoda kartografi' orang memahami cara untuk menggambarkan suatu fenomena atau suatu daerah sedemikian rupa sehingga secara geospasial nyata hubungannya antara objek dan struktur yang akan digambarkan. Ketika informasi geospasial itu disajikan dalam bentuk peta, seseorang harus menyadari akan tersedianya ruang, pada informasi yang penting, diantara struktur informasi itu.
      Salah satu saat yang paling penting dalam kartografi adalah ketika citra satelit pertama telah tersedia. Hal ini memberi kesempatan untuk mengecek apakah aktivitas pemetaan berabad-abad sebelumnya, terutama proses generalisasi dari peta-peta detil berskala besar ke peta-peta umum berskala kecil untuk wilayah lebih luas, telah dilaksanakan dengan cara yang benar. Perbandingan antara citra satelit fotografi Apollo I dengan peta yang telah ada, pada umumnya menunjukkan banyak persamaan, yang membuktikan ketepatan dengan teknik yang diterapkan.
       Hal kedua yang penting dalam kartografi adalah pada saat pengenalan tentang_komputer. Pada mulanya (periode 1960-1980) komputer digunakan untuk meng-otomatisasikan tugas-tugas dalam pemetaan misalnya perhitungan proyeksi dan plotting garis lintang bujur atau graticule pada peta. Hal ini memungkinkan untuk memetakan suatu daerah dengan proyeksi yang berbeda, berdasar pada kombinasi file digital yang sama dengan parameter transformasi yang berbeda-beda. Secara bertahap, para ahli kartografi (cartographer) menyadari akan potensi untuk anallsa data digital dengan komputer. Hal itu menjadi jelas bahwa dengan bantuan komputer seseorang dapat melakukan perhitungan-perhitungan pada peta yang telah didigitasi, dapat menentukan jarak, luasan/area dan volume, jauh lebih tepat dibanding bila dilaksanakan dengan menggunakan peta kertas/peta cetak.
       Peta pada saat ini dianggap sebagai bentuk visualisasi ilmiah (scientific visualization) (lihat Gambar) 3.1), dan peta-peta tersebut tetap ada sebelum visualisasi dikembangkan ke dalam suatu bidang ilmu yang berbeda.


                
Gambar   3.1   Hubungan   Antara Visualisasi   ilmiah, visuaiisasi Informasi dan Kartografi.



Gambar 3.2 Distribusi curah hujan di Belanda: contoh disain peta yang menghubungkan antara ( a) komunikasi data, atau ( b) tujuan analisis data.


Tujuannya adalah menganalisa informasi tentang hubungan secara grafis sedangkan kartografi bertujuan pada penyajian hubungan geospasial. Visualisasi terdiri atas visualisasi grafis (ditunjukan dengan bentuk simbol-simbol dan garis-gafis) dan visualisasi geometris, yang merujuk pada posisi relatif. Didalam kartografi, posisi relatif pada umumnya dipresentasikan pada basis grid geospatial - Cartesian atau geografis - lokasi-lokasi merujuk pada posisi absolut di permukaan bumi. Penekanan di dalam visualisasi ilmiah (Hearashaw dan Unwin, 1994) adalah lebih ditekankan pada kekuatan analitis (explorative analysis) 'dibanding pada aspek komunikatif: terutama diarahkan pada penemuan dan pemahaman. Dalam kartografi penekanan yang sama terletak pada analisa dan komunikasi.
Salah satu aspek analisis eksplorasi yang paling utama dalam kartografi adalah perubahan perspektif yang disajikan mclalui transformasi. Dalam kartografi, jenis-jenis transformasi dipengaruhi oleh: (1) penyimpangan dari proyeksi peta tradisional, (2) penyimpangan akibat dari geometri Euclidean yang merupakan penyajian luasan/area dan jarak di permukaan burni, (3) penyimpangan dari rcalita disebabkan oleh pcrbesaran nilai data pengukuran atau nilai-nilai yang akan disajikan (sebagai contoh, pada model 3D: skala vertikal boleh diperbesar sepuluh kali skala horisontal), (4) pembesaran skala lokal dari skala regional, agar membuat skala regional lebih menonjol, dan (5) dengan mengadakan percobaan dengan batas-batas kelas dan warna atau nilai keabuan yang diaplikasikan. Cara-Cara lain mengubah perspektif adaiah dengan penyimpangan dari bingkai peta geografi tradisional (melalui gulungan di dalam peta elektronik), dengan mengubah orientasi peta (dengan utara bukan di puncak), demikian juga time frames (dengan monitoring) sehingga efek dari suatu aktivitas survei yang acak atau dari aktivitas pengumpulan suatu data yang acak adalah diluar kumpulan.

DEFINISI KARTOGRAFI

Arti istilah "kartografi" telah berubah secara fundamental sejak tahun 1960. Sebelumnya kartografi didefinisikan sebagai "pembuatan peta". Perubahan definisi disebabkan oleh kenyataan bahwa kartografi telah dikelompokkan dalam bidang ilmu pengetahuan komunikasi dan (2) hadirnya teknologi komputer. Mengacu dari definisi kartografi sebelumnya, kartografi sekarang didefinisikan sebagai "penyampaian informasi geospasial dalam bentuk peta". Hal ini menghasilkan pandangan, tidak hanya sebagai pembuatan peta semata, tetapi penggunaan peta juga termasuk pada bidang kartografi.
Suatu kemungkinan definisi dari suatu peta adalah sebagai berikut: "model grafis aspek geospasial dari suatu realita" Menurut seorang ahli kartografi (cartographer) dari    Perancis, peta   adalah "suatu gambaran konvensional, sebagian besar dibuat di atas bidang datar yang menggambarkan fenomena nyata maupun abstrak yang terdapat dalam suatu ruang".
Di bawah pengaruh dari meningkatnya komputer dan sistem informasi geografi dalam bidang pemetaan, definisi baru dari kartografi secara berangsur-angsur muncul: "pemindahan informasi yang terpusat pada basis data spasial yang dapat dipertimbangkan dengan sendirinya menjadi suatu model yang beraneka ragam mengenai kenyataan geografi. Basis data spasial semacam itu kemudian bertindak sebagai pusat dari suatu keseluruhan urutan proses kartografi, menerima berbagai masukan data dan menyebarkan berbagai jenis produk informasi. (Guptill dan Starr, 1984).
Disini kartografi didefenisikan sebagai; pembuatan data spasial yang dapat diakses, menekankan visualisasinya dan memungkinkan berinteraksi dengannya, yang berhubungan dengan masalah-masalah geospasial. Kegunaan peta tergantung tidak hanya pada isinya tetapi juga pada skalanya. Skala peta adalah perbandingan antara suatu jarak di atas peta dan jarak yang diwakilinya di muka bumi. Ada berbagai kemung­kinan untuk menentukan skala peta.
Pada Gambar 3.4 daerah pemilihan umum, satuan di dalam peta yang berskala besar dikelompokkan bersama-sama untuk membentuk daerah kota pada peta skala menengah kotamadya Netherlands. Penggabungan ini mempunyai suatu efek langsung pada data.
Secara tradisi pengeiompokan utama peta-peta adalah peta tematik dan peta topografi. Peta topografi menyediakan gambaran umum mengenai permukaan bumi: jalan, sungai, rumah, kadang-kadang vegetasi alami, relief dan nama-nama berbagai obyek yang dipetakan. Peta tematik menyajikan distribusi dari suatu fenomena tertentu.
Peta tematik akan menjadi jelas, jika satu aspek dari peta topografi seperti jalur cepat (motorways) atau kincir angin secara khusus ditonjolkan, sehingga kategori data yang lain pada peta dapat diketahui sebagai landasan. Salah satu contohnya disajikan dalam Gambar 3.4.
Di dalam lingkungan digital pembedaan antara peta topografi dan peta tematik berkembang menjadi "kurang relevan, karena keduanya terdiri dari sejumlah layer, peta topografi akan menjadi kombinasi pemisahan antara layer jalan dan jalan kereta api, layer perkampungan, hidrografi, garis kontur, nama geografi dan layer liputan lahan. Masing-masing ini akan menjadi peta tematik; kombinasi dari masing-masing layer ini di mana setiap kategori data secara visual sama akan menjadi peta topografi. Apabila salah satu kategori secara grafis ditekankan atau ditonjolkan dan yang lain diturankan maka akan berubah menjadi peta tematik.
Dasar topografis peta tematik jauh lebih skematis dibanding kutipan dari peta topografis. Suatu contoh ditunjukkan dalam Gambar 3.5.

     
Gambar 3.3 Peta topografi dan tematik: (a) topografi daerah Montferland di bagian timur             Belanda; (b) peta tanah dari daerah yang sama (dari peta tanah Belanda      1:50 000).

Peta temporal/sementara ini dapat diturunkan dari suatu basis data geospasial yang disimpan di dalam komputer, dimana pilihan telah dilakukan dalam rangka menjawab kebutuhan spesifik atau sasaran tertentu. Basis data geospatial, dapat juga digunakan untuk menghasilkan peta lain, yang berfungsi sebagai peta maya, dengan cara yang sama peta sket yang berbeda dapat diproduksi dari persepsi mental seseorang tentang realitas (lihat juga Gambar 2.2).
Peta dapat menunjukkan tiga dimensi dari gejala yang disajikan: sifat atau niiai dari objek-objek dan lokasinya. Lokasi digambarkan di sumbu koordinat x dan y; nilai ditunjukkan sebagai koordinat z. Ini adalah salah satu tugas kartografi untuk menonjolkan koordinat z secukupnya pada permukaan kertas.


 PROSES KOMUNIKASI KARTOGRAFI

Titik awal yang terkait dengan proses komunikasi kartografi adalah data atau informasi (I), pada umumnya dikumpulkan oleh pihak ketiga (ahli geodesi, ahli photogrammetri, ahli geografi, orang-orang statistik).
Pada prinsipnya, peta menunjukan kepada kita tentang situasi dari permukaan bumi; dengan mengamati suatu peta kita mengkhayalkan permukaan bumi, dan kita mencoba untuk menyamakan visi mental dengan dunia nyata.


                            
Gambar 3.4 Peta tematik yang diciptakan dengan mengurangi bagian dari topografi, dan dengan menonjolkan suatu kategori informasi yang spesifik (jalan raya).



                                      
Gambar 3.5 Kompilasi Peta Tematik.


                  
                              
Gambar 3.6 Model proses komunikasi kartografi.



         
Gambar 3.7 Contoh pilihan selama proses visualisasi.

Dari semua sumber ini, tradisional dan baru, banyak informasi langsung diarahkan kepada ahli kartografi, kebanyakan tidak dalam bentuk yang sesuai untuk penyajian secara kartografi. Cara-Cara penanganannya adalah korelasi dengan data lain, ungkapan dari derajat keseragaman atau perbedaan distribusi dari sekumpulan data, atau pembandingan data perhitungan absolut yang diambil pada waktu yang berbeda pada daerah yang sama, agar mampu menunjukkan perkembangan dalam periode waktu tertentu.
Desain peta terutama menitikberatkan pada aneka pilihan, metoda pemetaan, variabel grafis (seperti perbedaan di dalam ukuran, nilai, kepadatan/kebesaran, warna, bentuk dan arah) yang digunakan. Pada Gambar 3.7 sejumlah pilihan ditunjukkan yang berperan dalam desain peta, demikian juga hasil kartografi dari aneka pilihan ini.


     

       Gambar 3.13 Peta topografi yang digunakan untuk tujuan orientasi
    


          
Gambar 3.14 Peta perencanaan fisik (atas ijin    Atlas Nasional Netherlands, edisi 1)



Gambar   3.15   Peta   Manajemen   (Peta   Perlindungan Pantai, Beianda).

Pada bentuk ini (orientasi, perencanaan kota, peramalan, pendidikan dan manajemen), peta-peta itu dibagi secara fungsional ke dalam kelompok berbeda. Fungsi-fungsi peta Ini dibedakan sesuai tipenya, dimana sekelompok peta mempunyai persamaan bentuk menurat metode yang digunakan, seperti metoda chloropleth atau metoda isoline.
Kategori peta merupakan bagian dimana peta-peta dengan tema yang sama diturunkan; perencanaan kota ((own plan), peta cuaca, peta geologi, peta penduduk, peta bahasa, dan lain lain. Dari sudut pandang desain peta atau penggunaan peta tidak ada gunanya untuk mendiskusikan kategori peta ini secara terpisah, karena perbedaan tema, disain serupa, permasalahan dalam penyajian dan interpretasi mungkin terjadi.

*Dirangkum dari buku "Kartografi Visualisasi Data Geospasial"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar